Huuah..! teriakan itu menggangguku.! Baru setengah jam aku di depan laptop dan sudah setengah jam juga kupingku terbagi antara mendengarkan musik dan mendengarkan celoteh anak-anakku.

Kadang kakaknya bercerita, lalu adiknya tertawa terpingkal-pingkal. Kadang mereka bernyanyi lagu gak jelas, kadang berantem, lalu semenit kemudian mereka berebut robot rusak yg lampunya sdh gak nyala, yg tangannya gampang lepas,  “punyaku.!”
“bukan ini punya mas, dek.! “
“ punyaku.! Aku kan sdh besar.!

“ini punya mas, mas kan lahir duluan.!

“Punyaku, punyakuuu.., Mamaaa.! Mamaaa, ini punyaku.!!

 

Astagaaa…!!

“Mas, berbagilaah.. mas kan ada robot yang lain, tuh ada mobil.” Kataku tanpa beranjak dari kursi dan memperhatikan mereka.
“Tapi inikan punyaku, Ma.! “

“Punyaku.!!” Kata adeknya.

“Punya, Mas, Dek.!” Lalu mereka saling menarik robot itu. Adiknya mulai menangis.

“Kalau mas sama adek berebut,mama juga berebut.! Lalu robot itu ada dalam genggaman kami bertiga. Anakku yg pertama memegang kepalanya, adiknya memegang kakinya, dan aku memegan perutnya. “ini kalo kita tarik begini, pasti ada yg copot. Kalo gak kepalanya, ya kakinya.. harus ada yg lepasin 1 orang. “
“Mamaaa…” kata adeknya. Kita masih saling menarik robot itu…

Beberapa detik kemudian.., adek melepaskan genggamannya. Kemudian akupun melepaskannya. Dia menangis. Air matanya membasahi seluruh wajahnya yang memerah. “mamaaa, aku mau robot.”
“iya, besok adek beli, ya.?”

“Aku mau yang besar. Lebih besar dari punya mas.! Mas gak dikasi. Aku mau beli sendiri. Beli banyak.! Mas, gak usah dikasi.!”

“Ya, besok beli yg besar buat adek, ya..”

Lalu aku membawa anakku ke kamar.

 

Itu salah satu kejadian yg setiap hari berkali-kali terjadi. Dan biasanya lebih heboh lagi. Ruang keluarga sekaligus ruang tamu adalah ajang terjadinya segala macam kejadian.  “ Pertempuran, makan bersama, belajar, menerima tamu, bermain segala mainan mereka bahkan untuk naik sepeda. Luar biasa. Setiap hari, keadaan ruangan itu seolah baru saja dijatuhi bom. Buku, tissue, kertas-kertas, spidol, 3 mainan robot, burung, tembak-tembakan, pesawat, dinosaurus, peluru karet, celana pendek,  papan kecil, pesawat, blok, puzzle, tas, rautan pensil, gelas plastik…semuaaa… bertebaran dimana-mana memenuhi ruangan kami. Ckckck..

Kalo hati lagi mood dan gak capek.. langsung saja kubersihkan. Menyapu dan mengepel. Butuh waktu setengah jam untuk melakukannya. Dan tiap hari kulakukan 2-3 kali.

Kalo hati lagi gak mood.. kubiarkan saja.. sampai kadang aku malu ketika tamu berkunjung ke rumah kami, ruang tamuku seperti habis ditabrak pesawat. Buru-buru kubersihkan seadanya.. yg penting mereka bisa duduk…hahaha… ! *maaf ya para tamu..

Inilah hidupku. Seorang Ibu Rumah Tangga yang Sungguh Luar Biasa (kata mentor, harus memuji diri sendiri biar semangat ), (kalo disingkat : IRT SLB, xixixi..) yang full time mengurus anak-anak pintar tanpa pembantu. Punya usaha yg bisa dilakukan dari rumah, dan punya suami ganteng yang setia dan rajin bekeja yg selalu rutin mentrasfer duit utk kebutuhan hidup kami. Alhamdulillah sesuatu banget. Hehehe..

 

Kadang terpikir, seandainya aku bukan seorang ibu.. apa yg akan kulakukan.?

aku akan punya banyak waktu untuk bersenang-senang. Menikmati hidup, makan dimana-mana, gak usah masakin anak-anak, shopping, jele-jele, nonton drama korea tujuh hari tujuh malam, baca komik, baca buku, dengerin musik dari pagi sampai pagi lagi, tiduuurrr sepanjang hari…gak usah nemenin anak belajar, gak usah ngepel tiap hari, gak usah mencuci dan menjemur daaan.. mensetrika baju setinggi gunung.. gak usah ceramah hal-hal yg baik pada mereka, gak usah khawatir ketika ninggalin rumah. Aku bisa bekerja, cari duit sebanyak-banyaknya, ngumpulin, ngumpulin lalu dibelanjain. Hidup bebas semau-maunya. Kalo capek, tidur, kalo galau, tidur, kalo senang ngeluyur.. Huaah..! sepertinya menyenangkan ya.? Hmm…semakin dipikir..dipikir..dipikir…

 

Ujung-ujungnya…aku gak akan bisa. Seandainya aku gak punya otak dan perasaan.. pasti semua hal diatas bisa kulakukan. Coba, kubagi yang kupikirkan.. Bangun tidur kuterus mandi, tidak lupa menggosok gigi, habis mandi kutolong anak, membersihkan tempat tidurnya. Lalu menyiapkan seragamnya, lalu menyiapkan bekalnya, lalu mandiin si kecil, lalu masak, lalu nyuapin si kecil, lalu telpon pelanggan, lalu pergi ke rumah eyang, titip anak, nyari duit, lalu jemput anak, hahahihi sebentar sama eyang dan tante, lalu pulang, nemenin makan, malam nemeni belajar, sambil ngepel, lalu nyuapin si kecil, lalu ninabobokan si kecil.
Kalau tidak ada anak..habis mandi aku ngapain ya.?

Owh.. nonton TV.! Ok.. tv.., Emmh.. aku gak suka tivi.!

Hmm… nonton drama koreaaja deh.! Waah.. seru.. siang kumatikan dulu. Aku kan belum sarapan. Tadi Cuma makan roti. Cari makan dulu aah… siang ngeluyur.. makan di mall sambil cuci mata, eh ada baju bagus, eh, ada sepatu bagus.., beli aah… nyampe rumah sudah sore.., duit 300 rb habis dlm waktu 4 jam. Mantaap..!
Lalu ketika malam.. apa yg kulakukan ya.. lanjut nonton drama korea lagi, bisa. Baca buku, bisa. Atau ngerumpi ke tetangga.? Bisaa.! Lalu tidur.

Besok pagi.. bangun tidur., Masak gitu lagii..?!! lalu selama sebulan, setahun, dua tahun.? Gitu muluu.? Astaga… Jadi apa aku.? Aku memang bebas dan senang, tapi apa yg kudapatkan.? Apakah ini kebahagiaan.yang kubutuhkan?

            Padahal, tujuan terakhirku adalah syurga, dan untuk kesana bagiku tidak ada jalan lain kecuali bila aku menjadi seorang yang bermanfaat untuk orang lain. Bila aku bukan seorang ibu, mungkin aku hanya bermanfaat  untuk suamiku. Bila aku seorang Ibu, aku akan bermanfaat untuk suami yg selalu siap memberikan semua yang kubutuhkan, 2 anak-anakku yg pintar dan ramai dan yg suka bikin ribut setiap hari , dan juga BAGI DIRIKU SENDIRI. Dari anak-anak dan suami, aku bisa belajar banyak. Bisa memperbaiki sesuatu. Hidupku jadi berombak. Kadang tenang, angin semilir berembus pelan, kadang juga bergoyang, bergelombang dan pusing bahkan bikin mabok juga. Akan ada banyak hal yg bisa kulakukan untuk mereka, dan dengan itulah aku menjadi orang yg bermanfaat di tengah-tengah gelombang. Sungguh hidup yang luar biasa. Menjadi seseorang yang bermanfaat di tengah gelombang.
Nilainya sangat tinggi bukan. ?

Kalau aku bukan seorang ibu, tidak banyak yang kuketahui tentang hidup. Aku tidak akan tangguh menghadapi cobaan hidup. Bagaimanapun.., bagaimanapun., anak-anak sudah berperan besar membantuku menjadi seseorang yang lebih baik. Dan sebenarnya aku butuh menjadi Ibu. Aku yang butuh mereka. Bukan mereka yang butuh aku. Tuhan sudah mengirimkan mereka berdua sebagai pelatihku. * sekarang jadi pingin nangis kalau ingat kemaren lalu sudah marah sama pelatihku.. hiks.. Maaf Tuhan..:’(

 

Apa jadinya bila aku bukan seorang Ibu.?

 

Aku tidak akan menjadi apa-apa.

 

Salam sayang selalu buat anak-anak tercinta,

 

 

KistianLize

Bagaimanapun,akumencintaimereka..

 

 

About kistian lize

Howdy..! Glad to see you .. ^_^ . I liked read and photography. Hope you get any inspiration from here..kalo gak dapet, berarti anda belum beruntung. hehehe...Have a nice reading , ya ..^_^.!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s